Go to content Go to navigation Go to search

Pabrik Gula Tasikmadu, Karanganyar, Surakarta

KGPAA. MANGKUNEGORO IV

Walaupun pabrik gula Tasikmadu, Karanganyar masih beroperasi dalam mengolah tebu menjadi gula pasir, tetapi juga mengalami kemunduran dalam bisnisnya.  Pabrik gula yang yang dibangun oleh KGPAA. Mangkunegoro IV dalam melebarkan sayap bisnis beliau, namun pada jaman kemerdekaan Indonesia di ambil alih oleh pemerintah Indonesia, di bawah naungan PT. Perkebunan Nasional (Persero).  Adapun letak Pabrik Gula Tasikmadu, terletak di sebelah timur, berjarak sekitar 15 km dari kota Solo. 

Satu pagi yang masih gelap, kulajukan kendaran menuju PG (pabrik gula) Tasikmadu. Keinginan melihat keadaan sekitar pabrik itu, serta bangunan yang telah berdiri di sana sejak th. 1871 dan mengabadikannya dalam bentuk foto, maka kupilih waktu fajar menyingsing untuk dapat menghasilkan ambience foto yang baik. 

PG. Tasikmadu dari depan

Sesampainya disana, di sambut oleh para keamanan.  Melihat kamera yang tergantung di pundak, berasumsi bahwa saya adalah wartawan.  Setelah saya jelaskan bahwa hanya untuk dokumentasi pribadi.  Saya di “ijinkan” untuk melihat dan mengambil foto gerbong MN IV dan kereta kuda sederhana yang digunakan saat beliau meresmikan PG tersebut. Walaupun gerbong dan kereta berada di depan dan dengan akses masuk yang tidak terhalang, namun perlu juga “ijin khusus” untuk itu. Dengan di “antar” oleh petugas keamanan, saya akhirnya di “ijinkan” dan ditunggui dalam mengambil foto.

Agak mengurangi “comfort” saya dalam mengambil foto kedua benda bersejarah itu, namun tidak menjadi masalah, asal saya dapat mengabadikannya.  Berseberangan dengan PG ada sebuah taman di sana, namun belum diperbolehkan masuk, karena loketnya belum buka, harga tiket masuk yang tertera di loket adalah Rp. 2.000,- saja.  Untuk tour ke dalam pabrik, petugas keamanan menyarankan untuk kembali lagi sekitar jam 7 pagi, karena petugas belum datang. Sambil menunggu, saya menghabiskan waktu untuk mengitari daerah sekitar PG, menyelusuri sawah-sawah yang menghijau, berbincang-bincang kecil dengan para petani yang telah memulai kegiatan mereka di sawah.

Gerbong yang digunakan oleh KGPAA. MANGKUNEOGORO IV saat meresmikan KG.Tasikmadu

Karena kamera yang saya gantungkan di pundak saya, karena memang berniat untuk hunting pagi itu, di kira saya adalah dari Dinas Pertanian, yang mengambil foto untuk pengurusan limbah yang disebabkan oleh pabrik gula tersebut.  Agak kecewa saat mengetahui saya bukanlah orang yang mereka maksud. 

Jam 7 lewat saya kembali ke lokasi PG, sempat bertemu dengan petugasnya, namun dia menganjurkan untuk datang lagi jam 8. Saya patuhi dan kembali pada waktu yang dijanjikan, namun petugas yang menjanjikan itu tidak terlihat lagi. Disarankan untuk menuju ke kantor yang mengurusi Agrowisata Sundokoro itu. 

Saya mematuhi dan berjalan menuju kantor yang terletak agak tersembunyi.  Sesampainya disana, beberapa orang yang berada di kantor itu, berbincang-bincang sendiri, saya tidak tahu apakah mereka itu adalah pegawai PG ataukah tamu yang mengantri. Di sudut ada sebuah meja dan sedang melayani seorang tamu yang sedang membayar.  Petugas itu tidak sekalipun menengadahkan kepalanya untuk menyadari kehadiran saya di sana.  Karena waktu pemotretan yang kurang menguntungkan, karena hari telah beranjak siang, saya lalu mengurungkan niat untuk “touring” kedalam PG. tersebut, yang di jaga begitu ketatnya oleh sejumlah petugas keamanan.

Walau berbalut kekecewaan karena gagal untuk tour kedalam pabrik gula tersebut, kendati bangunannya begitu megah, seakan membawa kembali pada masa keemasan pabrik gula tersebut. Selalu akan ada hari esok untuk melakukan sesuatu yang tertunda. Mungkin untuk lancarnya kunjungan wisata ini, sebaiknya datang saat siang hari, sehingga petugas benar-benar siap dalam menjalankan tugasnya.  Early bird tidak rupanya tidak berlaku disana, atau mungkin waktu terbaik untuk mengunjungi tempat itu adalah pada saat dimulainya musim giling tebu, dimana ada yang namanya manten tebu, di mana ada perayaan yang mewarnai mulainya penggilingan dan juga sebagai rasa syukur rakyat yang panen tebu-tebu mereka.

Andaikata mereka mengelola tour ini lebih profesional dan marketing yang lebih baik, saya yakin tour ke PG ini akan menjadi pilihan tempat wisata bagi pengunjung, baik lokal, nasional maupun internasional.  Selain untuk menambah pengetahuan tentang proses tekniknya, namun juga akan membangkitkan kebanggaan terhadap kejayaan Indonesia, serta pengertian yang lebih akan sejarah, yang dapat membangkitkan semangat kebangsaan dalam menyikapi satu abad Kebangkitan Nasional bagi generasi muda Indonesia. Kelihatannya mereka masih harus banyak berbenah dalam masalah ini. 

 Kereta kuda yang digunakan oleh MN.IV
saat meresmikan PG. Tasikmadu

Semoga akan lebih baik di masa mendatang.  Ternyata tidak mudah untuk sekedar berwisata di pabrik gula peninggalan raja Pura Mangkunegaran yang terkenal kepiawaiannya dalam ekonomi, enterpreneur, ulama dan juga pujangga yang karyanya telah diakui oleh dunia.

Mengutip dari KGPAA. Mangkunegoro IV dalam konteks pembangunan pabrik gula ini :

“Pabrik gula iki openana. Sanadyan ora nyugihi, nanging nguripi.

Kinarya papan pangupa jiwane kawula dasih.”

(Peliharalah pabrik gula ini dengan baik, meskipun tidak memberi kekayaan,

namun dapat menghidupi dan merupakan sawah ladang

para karyawan dan masyarakat sekitar).  

 

  • Posted in Holiday Places

Leave a Reply