Go to content Go to navigation Go to search

BIS PATAS EKA

Karena selesai kegiatan di Yogyakarta sudah malam, kereta api Prameks sudah tidak beroperasi lagi, maka kuputuskan untuk menggunakan jasa bis patas Eka, walaupun menurut referensi / input yang masuk, di terminal banyak copet dan kriminal. Diam-diam rasanya was-was juga, namun jiwa petualang tidak bisa dibendung. 

Sesampai di terminal Yogyakarta yang besar dan kokoh itu, agak celingukan juga, maklum baru pertama kali menginjakkan kaki disana, kalau lewat depannya sudah sering.  Tanya kesana kesini, akhirnya sampai juga di pemberhentian bis patas yang menuju ke Solo.  Memang penerangannya agak kurang, sehingga terkesan agak suram pada saat malam dimana penumpang sudah sepi.  Segera memergoki bis Eka yang dengan setia menunggu penumpangnya, langsung aku naik dan mencari tempat duduk, di depan, tepatnya dibelakang supir. Segera mapan di tempat duduk pilihanku, kukeluarkan ipod, walaupun tivi di bis menanyangkang acara tivi nasional (hebat juga ya entertainment systemnya).  Bis yang bersih dan AC yang dingin menambah kenyamanan, walaupun tetap ada rasa was-was (maklumlah baru pertama kali, kurang pengalaman). 

Sebentar kemudian bis mulai bergerak meninggalkan terminal, tivi masih terus hidup. Kenek bis dengan sigap mendatangi satu-satu penumpangnya untuk menarik bayaran, sembilan ribu rupiah dan tidak lupa memberikan selembar karcis berwarna hijau sebagai tanda bukti pembayaran.  Managemen yang rapi. Selesai dengan tugas karcis, kenek mengambil nampan dan mengisinya dengan air mineral sebanyak penumpang yang di dalam bis itu, serta membagikannya ke masing-masing penumpang.  Wow…good service! Aku tersenyum sendiri dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Bis terus melaju dengan kecepatan sedang, tidak terburu-buru dan urakan. Tivi dimatikan, demikian juga lampunya.  Keadaan jadi sepi, hanya terdengar deruman mesin diesel dan sekali-kali supir berbicara dengan kenek yang duduk di sebelah kirinya. 

Sekitar sembilan puluh menit, bis sampai di kota Solo, dimana aku akan turun.  Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, maka aku minta diturunkan di Jalan Adisucipto, di depan sekolah Ursulin. Supir bis menghentikan bisnya sesuai dengan kemauanku, aku melangkah turun, mengucapkan terima kasih dan menuju ke mobil yang telah menungguku. Ya, aku di jemput oleh suami. 

Ternyata naik bis patas itu tidak menyeramkan. Semoga terminal Solo juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penumpangnya, serta kebersihan juga, seperti yang telah dilakukan oleh kota tetangganya, Yogyakarta.  Sehingga masyarakat luas dapat menggunakan fasilitas yang disediakan tanpa was-was dan ragu.  Maka, kita bisa menyumbangkan penghematan energi dalam rangka Global warming. Tidak hanya berupa spanduk, lips service dan propaganda semu, tanpa ada realisasi yang real.

  • Posted in Holiday Places

Leave a Reply